Ternyata sudah hampir 3 bulan aku disini, di Sumatera Utara. Hari – hari aku lalui tanpa ada rencana yang pasti, tergantung kondisi lapangan (kata orang lapangan). Tetapi semua itu tidak buatku kaget karena kebetulan aku lebih suka diluar ruangan, dan basic kuliahku juga menuntut aku sering ke lapangan. Tapi disini, aku seperti terjebak dalam kantor sebagai calon engineer muda di salah satu instansi pemerintah di negeri ini, meski begitu aku selalu berusaha untuk ikhlas jalani semua, sehingga apa yang aku peroleh nantinya bisa berkah dan bermanfaat untuk semua.
Sibolga, kota pelabuhan yang bisa dibilang kecil jika dibandingkan dengan jumlah penduduknya yang ramai. Kota yang mayoritas masyarakatnya bergantung pada hasil laut ini adalah kota kesekian dari episode panjang dalam hidupku. Dari perjalanan itu aku banyak belajar, banyak melihat dan berusaha menterjemahkan pesan kakekku ketika aku pertama kali keluar dari Wonogiri (kota kelahiranku) dan pergi ke Semarang untuk melanjutkan studi. Beliau berpesan, “Ojo mung waton ngomong, ananging ngomong nganggo waton” (Jangan asal bicara, tapi sadar apa yang dibicarakan), karena disetiap tempat yang kita singgahi berbeda pula karakter juga kondisi masyarakatnya. Sama halnya dengan disini, aku harus pinter – pinter bawa diri, karena mayoritas penduduk sini adalah orang batak, yang orang bilang kasar dll, meski sebenarnya tidak semuanya benar, karena kasar di Jawa belum tentu kasar di sini. Walau begitu ada pula pendatang dari Jawa, dan tidak sedikit dari mereka adalah perantau dari Solo dan sekitarnya, termasuk Wonogiri, kota tercinta.
Ada cerita lucu ketika aku dapat tugas mengurus BBM yang akan digunakan dalam operasi unit di Pertamina cabang Sibolga. Disana aku bertemu dengan penjual jamu gendong (kenyataanya yang nggendong sepeda mini, tapi tetep aja dipanggil mbak jamu gendong). Dari cara dia ngomong, aku sudah bisa nebak kalau dia orang jawa, dan ga jauh – jauh dari Solo, dan ternyata benar, dia orang Sukoharjo. Hari berikutnya ketemu lagi orang Karanganyar (bakso seller), Sukoharjo lagi (bakso seller juga), orang Wonogiri (juice seller) dll. Meski kebanyakan perantau dari Solo ini pedagang, jangan bandingkan penghasilan per bulannya dengan penghasilan seorang OJT dari salah satu BUMN dengan aset terbesar di negeri ini, karena bisa malu sendiri awak nih. Alhamdulillah, ternyata aku tidak sendiri di Kota kecil ini.

” –mo bilang lagi kere semendhe aja ribet amat yak??!!– abis isi bensin, niatnya mo ke tempat teenku yang kebetulan kos nya de ket situ, tapi ternyata dia juga ga ada, hh sial banget gw nih hari
( putus harapan, akhirnya aku pulang mo cari maem di warung nasgor langgananku. di jalan ternyata malah ketemu “kawai”, temen kuliah, orangnya baek hati juga suka menolong, tp sayang mpe sekarang blom ada yang jadi tambatan hatinya. hehehe wes potong rung mey?? dia berhenti di salah satu warung makan, ga tau ngapain, mm mungkin mo makan kale yaa?? –dasar dudul, dah di warung makan mosok mo fotocopy!!–
